UNAS, bingung nggak?

“Pak, katanya materi UNAS mo ditambah?”

“Pak, standar kelulusan mo dinaikkan ya?”

“Pak, UNAS jadi nggak?”

“Pak, UNAS bla bla bla……”

Sejak sebulan ini, saya dibombardir dengan pertanyaan siswa sekolah tentang pelaksanaan Ujian Nasional (UNAS). Sebagai seorang bawahan yang baik saya selalu jawab dengan jawaban yang paling manis, “masih menunggu petunjuk dari atas”. Dan rupanya jawaban saya cukup jitu, paling tidak siswa-siswa itu tidak menanyakan pertanyaan yang sama untuk jawaban saya yang mungkin juga sama.

Standarisasi kemampuan siswa secara nasional, itulah jawaban yang saya tangkap setiap ada kritikan untuk pelaksanaan UNAS. Bagi saya jawaban itu cukup rasional. Kita harus membuat sebuah sistem untuk meminilisir gap mutu pendidikan secara nasional. Tapi pertanyaan selanjutnya adalah apakah dengan melalui UNAS?

Kemampuan siswa adalah produk dari input siswa serta proses yang dijalani di sekolah. Untuk membuat sebuah produk yang standar, maka konsekuensi yang harus dijalani adalah tersedianya input dan proses yang standar pula. Tanpa adanya aturan standar pada input dan proses (termasuk pula sarana penunjangnya) itu, maka standarisasi kemampuan sepertinya akan sulit dicapai. Karena itu, membuat sebuah pengukuran capaian belajar dengan hanya melihat hasil akhir saja melalui UNAS adalah sebuah lompatan.

UNAS akan relevan manakala standarisasi yang dilakukan pemerintah juga menyentuh pada upaya untuk meningkatkan sarana dan mutu pembelajaran, bukan hanya pada hasilnya. Pengukuran hasil studi secara nasional semestinya juga diimbangi dengan peningkatan standar sarana dan mutu pembelajaran secara nasional pula.

Dengan kondisi di mana kesenjangan di sarana sangat terasa terutama di daerah, maka menjadi wajar jika UNAS menjadi monster. Tidak hanya bagi murid, tapi juga bagi guru dan orang tua. Sehingga sangat wajar jika pada tahun-tahun lalu berita tentang kecurangan UNAS yang tidak jarang juga melibatkan guru menjadi headline dalam berita pendidikan kita.

Nah, sebenarnya kalau berkenan, pemerintah dapat meneruskan rencana untuk melaksanakan UAN. Tapi bukan sebagai standar kelulusan. Dengan dilaksanakannya ujian secara nasional sebenarnya pemerintah akan punya data untuk memetakan kualitas pendidikan secara nasional. Dari data itu akan terlihat daerah mana yang kualitas lulusannya rendah. Kebanyakan, lulusan rendah dikarenakan proses yang tidak maksimal. Bisa karena SDM atau sarana. Dengan diketahuinya data tersebut, pemerintah akan bisa menentukan langkah apa untuk meningkatkan kualitas di daerah tersebut. Jika yang terjadi seperti ini, maka UNAS akan menjadi sebuah instrumen penting yang keberadaannya tidak ditakuti, tapi dibutuhkan.

Tapi mau nggak??

Tabhek

Tabhek, bagi masyarakat santri di kawasan timur jawa adalah sebuah istilah bagi nasi yang dibungkus dan digulung dengan daun pisang. Biasanya, tabhek menjadi oleh-oleh dari orang tua santri yang berkunjung ke anaknya di pesantren. Santri juga biasa bawa tabhek ketika mereka kembali ke pondok.

Ada semacam hukum tak tertulis bahwa setiap yang datang ke pondok harus bawa tabhek. Tunggu saja “sanksi sosial” yang berupa gojlogan yang siap memerahkan telinga kalau terjadi pelanggaran pada hukum tak tertulis tersebut. Sebuah motto bahkan pernah saya lihat tertulis besar di salah satu kamar santri LPBA (Lembaga Pengembangan Bahasa Asing), bunyinya gini: Coming Back, Without Taback, Go Back!!!

Tabhek dimakan secara bersama-sama dengan warga santri sekamar. Kadang jika “kuantitas” dan “kualitas”nya banyak, tanpa diundangpun tetangga kamar bisa datang nimbrung. Tidak ada yang protes. Gulungan nasi yang dibungkus daun pisang dibuka di atas lantai, lantas ditaburi dengan lauk yang sudah “built in” di dalamnya. Para santri yang kadang sengaja tidak makan demi menunggu momen indah ini duduk melingkar dan langsung “menyerbu” dengan sistematis.

Lepas dari apapun menunya, tabhek memiliki daya tarik tersendiri untuk menggugah selera. Jangankan ketika memang lapar, santri yang sudah makanpun seolah terlupa pada kapasitas perutnya.

Tabhek, bagi masyarakat santri bukan hanya berfungsi sebagai makanan yang mengenyangkan. Lebih dari itu, ia adalah simbol persatuan dan persaudaraan santri. Tanpa melihat latar belakang ekonomi, budaya, dan pendidikan, semua santri duduk melingkar dengan posisi yang sama, menghadap ke arah yang sama, untuk tujuan yang sama, karena bagi tabhek berlaku sebuah kaidah : sedikit apapun cukup, sebanyak apapun habis..

Wah.. di sebelah lagi ada tabhek.. MAU?

Terbatas itu indah

Saya mulai belajar di pondok pesantren ketika saya berusia 11 tahun. Ketika itu bayangan saya jadi santri itu enak. Bebas dari aturan di rumah, nggak dimarahin orang tua karena main kelamaan, trus pegang duit banyak, apalagi waktu itu masih ada kakak yang juga belajar di pondok.

Awal-awal ketika baru mondok, semua yang ada dalam gambaran saya memang menjadi kenyataan. Duit masih banyak, bebas main tanpa kenal waktu (di tempat saya, ada dispensasi khusus buat santri baru dengan aturan yang sangat longgar, mungkin maksudnya biar kerasan ya.. :) )

Seiring dengan berjalannya waktu, “wujud nyata” dari kehidupan baru ini mulai saya rasakan. Ketika tanggal tua, jatah kiriman sudah mulai menipis. Belum lagi ketika dihadapkan pada kenyataan betapa kegiatan begitu menumpuk yang mengakibatkan terbatasnya waktu bermain. Terlebih ketika saya berhadapan dengan “tradisi ngantre” yang tidak pernah terekam dalam bayangan saya sebelum mondok. Ngantre mandi, ngantre makan, ngantre baca koran, ngantre alat praktikum, dan sederet ngantre-ngantre yang lain.

Yah.. antre adalah sebuah konsekuensi ketika jumlah sumber daya jauh lebih kecil dari pada jumlah pemakai, yang dengan kata lain dapat kita singkat dengan kata keterbatasan. Kamar mandi satu tapi yang mau pake seratus, pasti terbatas kan? Siap-siap antre lah…

Secara terminologi, ungkapan keterbatasan memang memiliki definisi yang jelas. Tapi dalam praktek sebenarnya ungkapan keterbatasan menjadi sangat relatif. Terbatas bagi kita belum tentu terbatas bagi orang lain. Apalagi bila yang menjadi alat ukurnya adalah sikap dalam menghadapi keterbatasan itu. Keterbatasan dapat menjadi penghalang bagi mereka yang menanggapi negatif, namun ia juga dapat menjadi inspirator bagi yang menganggapnya sebagai tantangan.

Bagi saya yang waktu itu masih baru menjadi santri, keterbatasan menjadi sebuah momok yang cukup menakutkan. Bagaimana tidak, dari sebelumnya menjadi “anak mama” di rumah, serba dilayani, semua yang diminta gampang ada menjadi “anak bawang” yang mau apa-apa masih nunggu ini dan nunggu itu. Tapi benar juga kata orang, jika sudah terbiasa akhirnya enak juga (guru saya Almarhum KH. Hasan Abd. Wafi pernah bikin istilah “likulli tumanun nyamanun”)

Lepas dari biasa atau nggak, keterbatasan adalah sebuah masalah yang langsung atau nggak akan menggugah kreatifitas. Bagaimanapun, kita harus mengakui bahwa yang segala kemudahan yang ada dalam hidup berawal dari keterbatasan. Komputer lahir dari keterbatasan otak manusia untuk mengolah data, pesawat lahir dari keterbatasan manusia untuk berjalan cepat. Ya… semua bermula dari keterbatasan..

Kembali ke laptop :) , Nah… Buat kita yang saat ini hidup dalam keterbatasan. Berbahagialah, karena kita sedang diberi kesempatan untuk melahirkan kreasi baru. Siap kan??