Menikmati Sakit…

Tiga hari ini kondisi badan saya kurang begitu enak. Seluruh tulang terasa linu, ditambah pula tenggorokan yang terasa perih ketika menelan. Vonis dokter yang saya terima adalah infeksi saluran tenggorokan. Akhirnya, sayapun harus suka rela beristirahat total di kamar pondok.

Diam tanpa aktivitas sebenarnya adalah sesuatu yang paling saya benci. Sama levelnya seperti ketika harus menunggu. Tapi mau bagaimana lagi, aktivitas maksimal yang bisa saya lakukan selama tiga hari itu hanya membaca, dan sesekali SMS-an teman. Itupun dilakukan dengan kondisi kepala terasa berat dan tenggorokan terasa ngilu.

Berada dalam kondisi yang tidak mengenakkan adalah hal yang paling tidak diharap oleh siapapun, termasuk saya dan anda. Tapi siapa yang bisa menolak suatu kondisi bila ia sudah dicipta-Nya? Protes dan mengeluh adalah perilaku standar yang hampir semua orang lakukan ketika ada dalam suasana tidak enak.

Membayangkan betapa dalam 3 hari tanpa kondisi prima saja saya tidak berdaya membuat saya tidak bisa membayangkan bagaimana dengan orang lain yang hidup lebih menderita. 3 hari tidak bisa makan dengan enak masih lumayan, itu hanya persoalan selera yang tidak ada, toh makananpun sebenarnya tersedia. Coba bandingkan dengan saudara kita yang kurang beruntung secara ekonomi, selalu punya selera tapi jarang ada makanan. 3 hari bisa bergerak meski dengan sedikit pusing masih bagus, dibandingkan dengan saudara kita yang terbaring stroke.

Ya, meratapi sakit sepertinya bukan jawaban yang paling tepat untuk mengurangi beban sakit. Benarlah ungkapan seorang guru saya yang pernah berkata, “kalau kamu susah dan cemberut, rugilah dua kali. Kesusahan tidak akan hilang, dan kamu kelihatan jelek..”. Akhirny saya mencoba untuk melakukan sesuatu yang sulit, dan memang sungguh sulit. Menikmati rasa sakit…

Tak usahlah saya tulis bagaimana rasanya. Toh rasa bukan bahasa verbal yang bisa dilukiskan. Tapi saya telah bersyukur dianugerahinya rasa sakit. Paling tidak saya bisa lebih sadar, Betapa nikmat sehat dan kesempatan yang dia anugerahkan jauh lebih banyak prosentasenya. Hanya selama ini masih cenderung saya abaikan. Rasa sakipun telah memberi nikmat baru, paling tidak saya merasa ada yang telah memberikan perhatian lebih bagi saya…

Alhamdulillah…

Pesantren Mampu Menjaga Wilayahnya Sendiri, Tidak Perlu Intelijen

http://www.syirah.com/syirah_ol/online_detail.php?id_kategori_isi=1011

Jakarta- Pesantren dianggap mampu untuk menjaga diri sendiri dan lingkungannya dari gerakan-gerakan radikalisme Islam yang cenderung menggunakan media kekerasan untuk berdakwah. Sehingga tidak perlu menjadikan santrinya sebagai agen intelijen.

Demikian yang disampaikan oleh Ahmadi Andianto, santri Pondok Pesantren Nurul Jadid Paiton Probolinggo Jawa Timur dan Siti Nurjannah, alumni Pondok Pesantren al-Itqon, Jakarta Barat, saat diwawancarai Syirah via telepon terkait rencana kesediaan Badan Intelijen Negara (BIN) untuk mendidik santri menjadi seorang intelijen.

Menurut Andianto yang kerap disapa Aan, kalau orang pesantren (santri) ditarik keluar dari lingkungannya, kemudian mendapatkan pelatihan, maka pola pandangnya akan mengikuti alur di mana ia dilatih.

“Pola pandang intelijen, ketika dilatih menjadi intelijen,” ujar pria kelahiran Bondowoso, 1 Februari 1981 itu.

Dengan meneladani nilai-nilai kepesantrenan yang diajarkan kepada santri seperti tasamuh, toleransi, menghormati perbedaan, sebagaimana yang ia rasakan selama mondok sejak tahun 1993 ini, pesantren akan mampu menjaga dan mengkontrol wilayahnya.

“Sejauh pesantren bisa menjaga nilai-nilai kepesantrenan, cukup mampu untuk memonitoring wilayahnya,” jelasnya.

Selan itu, Aan juga mengatakan, pasantren terkena getahnya dari persoalan terorisme yang dituduh sebagai sarang pencetak teroris. Semestinya, tambahnya, dilakukan penelitian terhadap pesantren terlebih dahulu dengan cara masuk dan belajar sebagai santri di pondok pesantren.

Sebagai alumni pesantren, Nurjannah, mengatakan setiap pondok pesantren sudah mempunyai strategi dan kekuatan untuk mengantisipasi adanya gerakan-gerakan yang akan mengganggu keberadaan pesantren. Salah satu strategi yang dilakukan pondoknya, al-Itqon, papar perempuan yang kini bekerja di salah satu perusahaan konsultan di Jl. Sudirman, Jakarta Pusat, itu menjalin komunikasi aktif dengan masyarakat sekitar.

“Kalau sudah ada ikatan yang kuat, masyarakat juga pasti akan ikut menjaga pesantren itu. Apa yang dikawatirkan,” terang perempuan kelahiran Jakarta, 29 Januari 1981 itu.

Menurut pengalaman Nurjannah, pelajaran yang diberikan pondok pesantren cukup mampu untuk membentengi dan menuntun santri ketika kembali hidup ditengah-tengah masyarakat. Misalnya, tegas Nurjannah, ajaran untuk saling hormat-menghormati antar sesama.

Game RTS dan Agresivitas

Saat saya mengetik tulisan ini, saya sedang berkontemplasi untuk menyusun dan menyelesaikan skripsi psikologi saya di Fakultas Dakwah IAI Nurul Jadid. Kebetulan saat ini saya sedang keranjingan main game Real Time Strategy. Game yang mengasyikkan, membayangkan diri menjadi seorang panglima perang mengerahkan seluruh sumber daya dengan berbagai strategi yang untuk meluluh lantakkan musuh.

Menghubungkan antara game RTS dengan agresivitas adalah ide yang sebenarnya muncul agak tiba-tiba. Adanya unsur kekerasan yang sama-sama bisa ditemukan pada game RTS dan agresivitas ini membuat sebuah dugaan bahwa kedua hal ini dapat saling berhubungan jika diteliti lebih lanjut. Dari hasil renungan sekilas muncullah sebuah tema “hubungan permainan RTS dengan Agresivitas”.

Hipotesa saya sangat sederhana, ada pengaruh positif antara orang yang suka bermain game RTS dengan agresivitas. Beberapa penelitian lain yang menyimpulkan adanya hubungan positif antara tontonan kekerasan dengan agresivitas memberikan keyakinan lebih besar bahwa hipotesa saya akan terbukti. Analogi saya, jika menonton tayangan kekerasan saja mempengaruhi agresivitas, apalagi ikut berperan aktif sebagai pemain dalam adegan kekerasan, sekalipun hanya dalam game.

Untuk mencari kesimpulan akhir, terlebih dahulu saya akan mengumpulkan data tentang orang-orang yang suka bermain game RTS dengan metode random sampling. Mereka akan interview tentang frekuensi dalam bermain RTS. Selanjutnya mereka akan diuji tingkat agresivitasnya melalui sebuah alat test berbentuk angket yang sudah diuji validitas dan reliabilitasnya.

Data frekuensi permainan RTS dan tingkat agresivitas ini akan dianalisis secara statistik dengan metode regresi. Dari hasil analisis akan diketahui apakah hipotesa saya diterima atau ditolak.

Lepas dari apapun hasil penilitian ini, saya berharap semoga ilmu yang saya dapatkan di bangku kuliah ini bisa bermanfaat dan diaplikasikan dalam kehidupan.

Amiieenn………………

Hoax dan Husnudzanitas Santri

“Ketika ada orang yang mengancam anda untuk menguras isi ATM anda, jangan khawatir. Tetap saja anda masuk ke ATM kemudian isikan pin anda dengan urutan angka terbalik, maka atm akan mengirim isyarat bahaya ke kantor polisi terdekat”

“Dalam rangka ultah indofood, telkomsel bagi-bagi pulsa. Kirim sms ini ke 10 orang yang berbeda, pulsa anda akan bertambah dengan otomatis”….

Dua paragraf tersebut barangkali pernah “nyasar” ke email dan HP saya. Saya awalnya begitu mengacuhkan, tapi karena pada kolom dan nomor pengirim ada nama yang saya kenal baik dan dalam hati saya yakin nggak mungkin dia ngibuki saya, maka saya ikuti instruksinya. Saya sebar saja pesan itu ke kawan-kawan lain tanpa perasaan khawatir, dengan motif menginformasikan pada mereka sambil mencari “rezeki dari langit” :) . Namun apa hendak dikata, ternyata yang terkirim hanya berita bohong saja.

Hoax -begitu kerennya orang-orang bilang- dengan begitu mudahnya menipu saya, dan dengan mudahnya juga menipu teman-teman saya. Saya tidak tahu kenapa kami tertipu, tapi saya yakin saya dan teman-teman saya husnudzan bahwa orang yang menyampaikan berita itu pada kami tidak akan bohong. Barangkali demikian sangkaan dari sang penyampai berita sebelumnya.

“Fenomena” hoax ini sebenarnya bukan barang baru terjadi. Ketika masih kecil saya beberapa kali menerima selebaran dari orang dengan isi yang macam-macam. Anehnya, lagi-lagi kita selalu husnudzan. Ujung-ujungnya kita dikibulin. Bermacam-macam yang “dijual” dari hoax. Mulai dari iming-iming ekonomi sampai urusan keimanan yang ujung-ujungnya sampai memvonis kafir menjadi sumper inspirasi untuk dieksploitasi dalam hoax ini. Dengan berbagai motivasi tentunya.

Husnudzan memang baik, dan itu masih banyak lestari di masyarakat kita. Ungkapan “jangan berprasangka buruk” masih menjadi lalapan sehari-hari ketika mempelajari moralitas. Tapi hidup di era informasi seperti sekarang, husnudzan saja tidak cukup. Kasus di atas adalah gambaran bagaimana hanya dengan husnudzan kita tertipu mentah-mentah. Akses informasi harus dibuka seluas-luasnya, tapi arahnya harus jelas. Meningkatkan pengetahuan dan pengalaman ilmiah, dengan demikian husnudzan yang muncul nantinya benar-benar didasarkan pada dasar yang jelas. Yang jelas, jauh dari ketertipuan lagi….

Bagaimana?

Distance Learning di Pesantren

Bulan juli lalu, pesantren saya menerima tawaran sebagai mitra penyelenggara Program Pendidikan Jarak Jauh berbasis Internet dari sebuah institusi di jakarta. Untuk menindaklanjuti program tersebut, bersama seorang teman dosen saya diutus untuk ikut workshop jakarta. Judulnya “Workshop Needs Assessment for Distance Learning for Islamic Transformation through Pesantren” yang dilanjutkan dengan “Curriculum Workshop for Distance Learning for Islamic Transformation through Pesantren”. Arahnya memetakan kondisi di pesantren terkait pelaksanaan program dan merancang kurikulum pelaksanaan program.

Untuk saat ini, pendidikan berbasis TI di pesantren masih tergolong baru. Sekalipun sudah cukup banyak pesantren yang mulai berinteraksi dan menerima kehadiran TI namun penggunaannya sebagai sebuah sistem pembelajaran masih belum dilaporkan keberadaannya. Selama in, keberadaan TI di pesantren baru sebatas pengganti mesin ketik yang bisa berjalan multitasking.

Pemanfaatan TI sebagai sistem pembelajaran di pesantren, khususnya dalam bentuk e-learning membutuhkan beberapa persiapan tertentu. Dengan meminjam perspektif sistem komputer, saya mencoba memetakan persiapan itu dalam tiga hal: perangkat keras (hardware), perangkat lunak (software), dan pengguna (brainware).

Perangkat keras yang dibutuhkan dalam tidak hanya komputer, tapi memerlukan suatu infrastuktur telekomunikasi yang memungkinkan bisanya akses internet. Demikian pula perangkat lunak, bukan hanya program dalam bentuk software komputer, tapi juga seperangkat rencana kerja yang tersusun secara sistematis untuk untuk tercapainya tujuan tersebut.

Unsur penting dan barangkali yang paling urgen untuk dipersiapkan adalah Sumber Daya Manusia(SDM) yang berada didalam jejaring program ini. Tidak bisa dipungkiri bahwa tidak banyak insan pesantren yang memiliki kompetensi di bidang TI. Karena itu, menjadi penting untuk meng-upgrade SDM pesantren sehingga minimal bisa lebih familiar terhadap TI. Idealnya, semuanya memiliki visi ke-TI-an yang sama.

Pengalaman pahit pernah saya rasakan ketika mengelola TI di pesantren. Ketika itu saya berada di dalam satu team untuk merancang jejaring komputer lokal yang bertujuan untuk membuat sistem informasi pesantren online. Segala persiapan infrastruktur perangkat keras dan perangkat lunak sudah disiapkan. Tapi akhirnya semua tidak menjadi maksimal. Masalahnya sederhana sekali, SDM yang ada belum memiliki visi dan pemahaman yang utuh tentang TI dan bagaimana implementasinya di pesantren.

Nah, mendambakan e-learning berlangsung di pesantren untuk masa-masa ke depan saya kira bukan sebuah impian yang muluk-muluk. Bahkan bisa jadi pada suatu saatnya nanti adalah sebuah kebutuhan. Namun, tanpa mempersiapkan ketiga unsur tersebut, rasanya dambaan itu hanya akan jadi mimpi belaka.

Bagaimana menurut anda?