Beberapa hari yang lalu saya pulang ke Bondowoso. Kebetulan ketika itu bertepatan dengan pengumuman kelulusan siswa SLTP. Sebelumnya, saya belum pernah pulang ke rumah tepat berbarengan dengan pelaksanaan pengumuman pelulusan. Di benak saya sih, karena Bondowoso termasuk kota kecil, mungkin perayaan kelulusan siswa dilakukan biasa saja, senyap tanpa publikasi.
Tew… barangkali saya termasuk putra daerah yang kuper, begitu saya masuk ke kota, gegap gempita siswa yang merayakan kelulusan benar-benar membuat saya surprise. Sebenarnya kalo melihat berita di kota-kota besar hal seperti itu biasa aja. Aksi corat-coret baju, kebut-kebutan, dan aneka ria hip hip hura-hura lainnya.
Melihat siswa yang lulus dengan segala aksinya, mengingatkan saya pada siswa yang tidak lulus, dengan aksinya juga tentunya. Beberapa media menulis adanya siswa yang mengamuk di sekolah karena tidak lulus, melakukan intimidasi, dan semacamnya. Sesuatu yang sangat kontradiktif dan benar-benar ironis. Hedonis ketika sukses dan Anarkis ketika gagal.
Dari semua fenomena yang terjadi, saling menyalahkanpun muncul. Ada yang menyalahkan sekolah karena dinilai gagal mendidik, ada yang menyalahkan orang tua karena dinilai gagal mengawasi, ada yang menyalahkan pemerintah karena gagal membuat kebijakan yang berimplikasi positif. Untuk saja tidak ada yang menyalahkan tuhan karena sudah mentakdirkan adanya kata “pendidikan” dalam kamus manusia.
Semua bermula dari orientasi, begitu kata salah seorang kyai saya. Jika dalam belajar orientasi adalah lulus dan mendapatkan ijazah, maka tidak heran jika euforia kelulusan seperti yang kita lihat selama ini, sangat ekstrem dampaknya. Ketika lulus tujuan hidup seolah sudah tercapai dan ketika gagal seolah tidak ada harapan lain dalam hidup.
Lulus dalam masa studi memang penting, tapi masih ada yang lebih penting lagi dari sekedar lulus yaitu memaknai hakikat lulus dan mengisinya dengan nilai-nilai yang relevan dengan proses pendidikan yang sudah dijalani sebelumnya. Mudah memang untuk berbicara, dan mudah pula untuk memulai asalkan ada kemauan..
Bener kan?
& Komentar
Komentar RSS Lacak Balik URI Pengenal
Tinggalkan komentar

perlu revolusi dalam mendidik anak sekarang agar punya rasa malu dan santun.
cerita masmuly
Tul banget..aq se7 tuh ma yg kayak gitu…tambah lagi pendidikan bil-hal by pendidik mungkin juga bisa dibilang VIT(Very Important Thing) …ya kan?
Dekremmah kaberreh taretan?? bileh kabinah??
Yup, setuju bahwa orientasi ijazah hanya akan melahirkan lulusan yang dangkal visi dan misi untuk membangun kehidupan masyarakat, mereka lebih mementingkan ego untuk kemajuan diri sendiri, akibatnya kelulusan dimaknai berlebihan dengan kebut-kebutan dll.