http://www.syirah.com/syirah_ol/online_detail.php?id_kategori_isi=1011
Jakarta- Pesantren dianggap mampu untuk menjaga diri sendiri dan lingkungannya dari gerakan-gerakan radikalisme Islam yang cenderung menggunakan media kekerasan untuk berdakwah. Sehingga tidak perlu menjadikan santrinya sebagai agen intelijen.
Demikian yang disampaikan oleh Ahmadi Andianto, santri Pondok Pesantren Nurul Jadid Paiton Probolinggo Jawa Timur dan Siti Nurjannah, alumni Pondok Pesantren al-Itqon, Jakarta Barat, saat diwawancarai Syirah via telepon terkait rencana kesediaan Badan Intelijen Negara (BIN) untuk mendidik santri menjadi seorang intelijen.
Menurut Andianto yang kerap disapa Aan, kalau orang pesantren (santri) ditarik keluar dari lingkungannya, kemudian mendapatkan pelatihan, maka pola pandangnya akan mengikuti alur di mana ia dilatih.
“Pola pandang intelijen, ketika dilatih menjadi intelijen,” ujar pria kelahiran Bondowoso, 1 Februari 1981 itu.
Dengan meneladani nilai-nilai kepesantrenan yang diajarkan kepada santri seperti tasamuh, toleransi, menghormati perbedaan, sebagaimana yang ia rasakan selama mondok sejak tahun 1993 ini, pesantren akan mampu menjaga dan mengkontrol wilayahnya.
“Sejauh pesantren bisa menjaga nilai-nilai kepesantrenan, cukup mampu untuk memonitoring wilayahnya,” jelasnya.
Selan itu, Aan juga mengatakan, pasantren terkena getahnya dari persoalan terorisme yang dituduh sebagai sarang pencetak teroris. Semestinya, tambahnya, dilakukan penelitian terhadap pesantren terlebih dahulu dengan cara masuk dan belajar sebagai santri di pondok pesantren.
Sebagai alumni pesantren, Nurjannah, mengatakan setiap pondok pesantren sudah mempunyai strategi dan kekuatan untuk mengantisipasi adanya gerakan-gerakan yang akan mengganggu keberadaan pesantren. Salah satu strategi yang dilakukan pondoknya, al-Itqon, papar perempuan yang kini bekerja di salah satu perusahaan konsultan di Jl. Sudirman, Jakarta Pusat, itu menjalin komunikasi aktif dengan masyarakat sekitar.
“Kalau sudah ada ikatan yang kuat, masyarakat juga pasti akan ikut menjaga pesantren itu. Apa yang dikawatirkan,” terang perempuan kelahiran Jakarta, 29 Januari 1981 itu.
Menurut pengalaman Nurjannah, pelajaran yang diberikan pondok pesantren cukup mampu untuk membentengi dan menuntun santri ketika kembali hidup ditengah-tengah masyarakat. Misalnya, tegas Nurjannah, ajaran untuk saling hormat-menghormati antar sesama.
1 Komentar
Komentar RSS Lacak Balik URI Pengenal
Tinggalkan komentar

aan, bikin blog alumni maknj angkatan 98 donk. kirim imel ke aku yak. aku kangen brt ma temen2 nih. kalo u butuh foto tmn2 aku ada tar aku kirim ke imel km.thx alot luv u all