“Ketika ada orang yang mengancam anda untuk menguras isi ATM anda, jangan khawatir. Tetap saja anda masuk ke ATM kemudian isikan pin anda dengan urutan angka terbalik, maka atm akan mengirim isyarat bahaya ke kantor polisi terdekat”
“Dalam rangka ultah indofood, telkomsel bagi-bagi pulsa. Kirim sms ini ke 10 orang yang berbeda, pulsa anda akan bertambah dengan otomatis”….
Dua paragraf tersebut barangkali pernah “nyasar” ke email dan HP saya. Saya awalnya begitu mengacuhkan, tapi karena pada kolom dan nomor pengirim ada nama yang saya kenal baik dan dalam hati saya yakin nggak mungkin dia ngibuki saya, maka saya ikuti instruksinya. Saya sebar saja pesan itu ke kawan-kawan lain tanpa perasaan khawatir, dengan motif menginformasikan pada mereka sambil mencari “rezeki dari langit”
. Namun apa hendak dikata, ternyata yang terkirim hanya berita bohong saja.
Hoax -begitu kerennya orang-orang bilang- dengan begitu mudahnya menipu saya, dan dengan mudahnya juga menipu teman-teman saya. Saya tidak tahu kenapa kami tertipu, tapi saya yakin saya dan teman-teman saya husnudzan bahwa orang yang menyampaikan berita itu pada kami tidak akan bohong. Barangkali demikian sangkaan dari sang penyampai berita sebelumnya.
“Fenomena” hoax ini sebenarnya bukan barang baru terjadi. Ketika masih kecil saya beberapa kali menerima selebaran dari orang dengan isi yang macam-macam. Anehnya, lagi-lagi kita selalu husnudzan. Ujung-ujungnya kita dikibulin. Bermacam-macam yang “dijual” dari hoax. Mulai dari iming-iming ekonomi sampai urusan keimanan yang ujung-ujungnya sampai memvonis kafir menjadi sumper inspirasi untuk dieksploitasi dalam hoax ini. Dengan berbagai motivasi tentunya.
Husnudzan memang baik, dan itu masih banyak lestari di masyarakat kita. Ungkapan “jangan berprasangka buruk” masih menjadi lalapan sehari-hari ketika mempelajari moralitas. Tapi hidup di era informasi seperti sekarang, husnudzan saja tidak cukup. Kasus di atas adalah gambaran bagaimana hanya dengan husnudzan kita tertipu mentah-mentah. Akses informasi harus dibuka seluas-luasnya, tapi arahnya harus jelas. Meningkatkan pengetahuan dan pengalaman ilmiah, dengan demikian husnudzan yang muncul nantinya benar-benar didasarkan pada dasar yang jelas. Yang jelas, jauh dari ketertipuan lagi….
Bagaimana?
1 Komentar
Komentar RSS Lacak Balik URI Pengenal
Tinggalkan komentar

Tapi tulisan ini bukan hoax kan mas….>>>