Distance Learning di Pesantren

Bulan juli lalu, pesantren saya menerima tawaran sebagai mitra penyelenggara Program Pendidikan Jarak Jauh berbasis Internet dari sebuah institusi di jakarta. Untuk menindaklanjuti program tersebut, bersama seorang teman dosen saya diutus untuk ikut workshop jakarta. Judulnya “Workshop Needs Assessment for Distance Learning for Islamic Transformation through Pesantren” yang dilanjutkan dengan “Curriculum Workshop for Distance Learning for Islamic Transformation through Pesantren”. Arahnya memetakan kondisi di pesantren terkait pelaksanaan program dan merancang kurikulum pelaksanaan program.

Untuk saat ini, pendidikan berbasis TI di pesantren masih tergolong baru. Sekalipun sudah cukup banyak pesantren yang mulai berinteraksi dan menerima kehadiran TI namun penggunaannya sebagai sebuah sistem pembelajaran masih belum dilaporkan keberadaannya. Selama in, keberadaan TI di pesantren baru sebatas pengganti mesin ketik yang bisa berjalan multitasking.

Pemanfaatan TI sebagai sistem pembelajaran di pesantren, khususnya dalam bentuk e-learning membutuhkan beberapa persiapan tertentu. Dengan meminjam perspektif sistem komputer, saya mencoba memetakan persiapan itu dalam tiga hal: perangkat keras (hardware), perangkat lunak (software), dan pengguna (brainware).

Perangkat keras yang dibutuhkan dalam tidak hanya komputer, tapi memerlukan suatu infrastuktur telekomunikasi yang memungkinkan bisanya akses internet. Demikian pula perangkat lunak, bukan hanya program dalam bentuk software komputer, tapi juga seperangkat rencana kerja yang tersusun secara sistematis untuk untuk tercapainya tujuan tersebut.

Unsur penting dan barangkali yang paling urgen untuk dipersiapkan adalah Sumber Daya Manusia(SDM) yang berada didalam jejaring program ini. Tidak bisa dipungkiri bahwa tidak banyak insan pesantren yang memiliki kompetensi di bidang TI. Karena itu, menjadi penting untuk meng-upgrade SDM pesantren sehingga minimal bisa lebih familiar terhadap TI. Idealnya, semuanya memiliki visi ke-TI-an yang sama.

Pengalaman pahit pernah saya rasakan ketika mengelola TI di pesantren. Ketika itu saya berada di dalam satu team untuk merancang jejaring komputer lokal yang bertujuan untuk membuat sistem informasi pesantren online. Segala persiapan infrastruktur perangkat keras dan perangkat lunak sudah disiapkan. Tapi akhirnya semua tidak menjadi maksimal. Masalahnya sederhana sekali, SDM yang ada belum memiliki visi dan pemahaman yang utuh tentang TI dan bagaimana implementasinya di pesantren.

Nah, mendambakan e-learning berlangsung di pesantren untuk masa-masa ke depan saya kira bukan sebuah impian yang muluk-muluk. Bahkan bisa jadi pada suatu saatnya nanti adalah sebuah kebutuhan. Namun, tanpa mempersiapkan ketiga unsur tersebut, rasanya dambaan itu hanya akan jadi mimpi belaka.

Bagaimana menurut anda?

& Komentar

  1. E-Learning dari Hongkong!!!!!
    Nggak barokah lageeee…..

  2. saya setuju sir.


Komentar RSS Lacak Balik URI Pengenal

Tinggalkan komentar