Orientasi Nilai, Harus!!!

Beberapa hari yang lalu saya pulang ke Bondowoso. Kebetulan ketika itu bertepatan dengan pengumuman kelulusan siswa SLTP. Sebelumnya, saya belum pernah pulang ke rumah tepat berbarengan dengan pelaksanaan pengumuman pelulusan. Di benak saya sih, karena Bondowoso termasuk kota kecil, mungkin perayaan kelulusan siswa dilakukan biasa saja, senyap tanpa publikasi.

Tew… barangkali saya termasuk putra daerah yang kuper, begitu saya masuk ke kota, gegap gempita siswa yang merayakan kelulusan benar-benar membuat saya surprise. Sebenarnya kalo melihat berita di kota-kota besar hal seperti itu biasa aja. Aksi corat-coret baju, kebut-kebutan, dan aneka ria hip hip hura-hura lainnya.

Melihat siswa yang lulus dengan segala aksinya, mengingatkan saya pada siswa yang tidak lulus, dengan aksinya juga tentunya. Beberapa media menulis adanya siswa yang mengamuk di sekolah karena tidak lulus, melakukan intimidasi, dan semacamnya. Sesuatu yang sangat kontradiktif dan benar-benar ironis. Hedonis ketika sukses dan Anarkis ketika gagal.

Dari semua fenomena yang terjadi, saling menyalahkanpun muncul. Ada yang menyalahkan sekolah karena dinilai gagal mendidik, ada yang menyalahkan orang tua karena dinilai gagal mengawasi, ada yang menyalahkan pemerintah karena gagal membuat kebijakan yang berimplikasi positif. Untuk saja tidak ada yang menyalahkan tuhan karena sudah mentakdirkan adanya kata “pendidikan” dalam kamus manusia.

Semua bermula dari orientasi, begitu kata salah seorang kyai saya. Jika dalam belajar orientasi adalah lulus dan mendapatkan ijazah, maka tidak heran jika euforia kelulusan seperti yang kita lihat selama ini, sangat ekstrem dampaknya. Ketika lulus tujuan hidup seolah sudah tercapai dan ketika gagal seolah tidak ada harapan lain dalam hidup.

Lulus dalam masa studi memang penting, tapi masih ada yang lebih penting lagi dari sekedar lulus yaitu memaknai hakikat lulus dan mengisinya dengan nilai-nilai yang relevan dengan proses pendidikan yang sudah dijalani sebelumnya. Mudah memang untuk berbicara, dan mudah pula untuk memulai asalkan ada kemauan..

Bener kan?

Jadi Anak-Anak Lagi? Andai bisa…..

Sangat menyenangkan melihat dunia anak yang penuh warna, serba ceria, nyaris tanpa susah. Tak jarang kadang, ketika kejenuhan memuncak karena sudah jadi orang dewasa, muncul keinginan untuk menjadi anak kecil kembali… Indahnya….

Anak kecil memiliki pola pikir yang masih belum terfokus, jadi mereka bisa berpetualang ke mana-mana dengan segala keceriaan. Berfikir bebas dan ceria, kata kunci bagi mereka yang memiliki progresifitas dan berfikir positif dalam hidup. Tidak salah jika disimpulkan bahwa fitrah manusia adalah progress dan berfikir positif, karena mereka memilikinya ketika masih belia.

Masalahnya adalah, ketika usia mulai bertambah, berpikir bebas dan ceria mulai jarang muncul. Ada apa ya?

Bikin Sumber Energi Alternatif Yuk….

Kenaikan BBM belakangan hari jadi isu yang cukup hangat ya… Tapi bagaimanapun keras perjuangan menolak BBM, ujung2nya naik juga. Sama kayak yang udah-udah… Kemarin migas dan elpiji jadi kontroversi, hari ini BBM, besok-besok bisa jadi listrik, atau apa lah… Kita benar-benar hidup di negara yang betul-betul tinggi tingkat mobilitasnya :)

Mencari energi alternatif, barangkali itu cara yang lebih bijak. Sekalian saja mengurangi ketergantungan pada orang lain. Dengan berswadaya energi, kita nggak lagi dipusingin oleh tetek bengek aturan yang naga-naganya selama ini masih belum berpihak pada kebutuhan kita.

Ada cerita menarik, di kabupaten probolinggo ada satu pesantren di dekat tempat saya yang dari dulu sangat tidak mau menerima bantuan dari instansi. Satu hal yang membuat saya kagum dari pesantren ini, mereka mampu berswadaya listrik dengan memanfaatkan aliran sungai dekat pesantren dengan menyediakan turbin dan generator. Seluruh kebutuhan listrikpun mampu diatasi sendiri. Satu ide brilian untuk memanfaatkan sumber daya yang ada. Beberapa kali saya baca beberapa berita di internet tentang masyarakat di daerah terpencil yang memenuhi kebutuhan listriknya dengan menggunakan panel tenaga surya. Sungguh menyenangkan, lepas dari TDL..

Pernah juga saya baca pemanfaatan biogas sebagai pengganti elpiji dan minyak gas yang berasal dari limbah manusia/hewan. Kadang saya iseng berfikir, Dengan jumlah santri di pesantren di nurul jadid sekitar 5000 orang, jika tiap orang memberikan sumbangan “limbah” 1 ons per hari, maka sekitar 500 kg bahan biogas tersedia setiap harinya. Ini kan sumber daya yang mengagumkan. . Bisa hemat berapa ratus ribu kan??

Sumber-sumber alternatif lain? saya yakin banyak. hanya barangkali kita masih belum ketahui. Masalah kita barangkali masih perlu belajar lebih banyak. Memulai hal baru bukan perkara mudah kan? Perlu keberanian, dan yang pasti keterampilan. . Tul gak???

Internet Masuk Pesantren

http://www.seputar-indonesia.com/edisicetak/pendidikan/internet-masuk-pesantren-3.html

UNIK, Dipilihnya pesantren sebagai pusat pengembangan program ODEL karena pesantren adalah lembaga potensial yang unik dalam proses transformasi ilmu pengetahuan.

INTERNATIONALCenter for Islam and Pluralism (ICIP) meluncurkan program pendidikan baru, ”Open, Distance,dan ELearning (ODEL) untuk Transformasi Masyarakat Islam melalui Pesantren”di Hotel Nikko Jakarta,awal pekan lalu.

Program yang didukung oleh Ford Foundation ini bertujuan untuk memberikan kesempatan kepada masyarakat pesantren dalam perolehan ilmu pengetahuan yang berbasis teknologi informasi dan komunikasi (ICT).

Peluncuran program ini tidak hanya dihadiri oleh sejumlah akademisi dan pengelola pesantren. Menteri Pendidikan Nasional Prof Bambang Sudibyo dan Menteri Komunikasi dan Informasi Prof Dr Mohammad Nuh juga ikut serta untuk mendukung terlaksananya program ODEL ini.

Prinsip education for all tercermin dari program yang telah direalisasikan ICIP sejak November tahun lalu.Menurut Project Officer Program ODEL Radjimo,kegiatan utama program ini adalah sosialisasi penggunaan teknologi informasi di delapan pesantren yang menjadi proyek percontohan.

”Saat ini teknologi adalah kunci dunia.Sejak dua tahun yang lalu, ICIP merancang program ini untuk dijadikan terobosan dalam dunia pendidikan di Indonesia,” sebut Radjimo. Peluncuran program ini dikemas dengan acara diskusi dan menghadirkan Duta Pendidikan Nasional Kamidia Radisti sebagai moderator dalam diskusi bertajuk ”Pendidikan Jarak Jauh Paket Keterampilan (Kewirausahaan) di Pesantren: Chanelling dengan Dunia Usaha”.

Miss Indonesia 2007 ini mengakui program ODEL merupakan cara baru yang diusung ICIP untuk meningkatkan kualitas hidup yang lebih baik. ”Program ini hebat karena memberikan motivasi dan inspirasi tersendiri untuk saya,”sebutnya. Kehebatan program ini diakui juga oleh pengurus PP Nurul Jadid Ahmadi Andianto, 27.

Dia melihat antusias santri dan masyarakat di sekitar pondok pesantren sangat besar. ”Awalnya kami mengira internethanya untukhiburan, tapi setelah berjalan 3 bulan ini, kami melihat meningkatnya motivasi para santri untuk belajar,”tutur Ahmadi.

Beberapa pesantren yang telah menerapkan program ini adalah PP Hasyim Asy’ari (Jepara), PP Raudhatul Jannah (Rembang), PP Al Kenaniyah (Jakarta), PP Annizamiyyah (Pandeglang), PP Miftahul Huda Al Musri’ (Cianjur), PP Al Mizan (Majalengka), PP Nurul Jadid (Probolinggo), dan PP Nurul Islam (Jember).

Radjimo menjelaskan, dipilihnya pesantren sebagai pusat pengembangan program ini karena pesantren adalah lembaga potensial yang unik dalam proses transformasi ilmu pengetahuan. ”Selain itu, data UNICEF tahun 2006 menyebutkan,pesantren merupakan pendidikan berbasis masyarakat yang jumlahnya lebih dari 5.000 dan tersebar di seluruh Indonesia,”ucapnya.

Untuk melancarkan program ini,ICIP menjalin kerja sama dengan Microsoft Indonesia dan Indosat sebagai penyedia infrastuktur dan jaringan internet. Program ODEL juga memberi kesempatan bagi anak yang putus sekolah untuk melanjutkan pendidikan melalui kesetaraan paket B dan paket C. Hal ini tidak hanya menunjukkan peran pesantren sebagai pusat belajar.Namun, pesantren juga memiliki fungsi sosial dan edukatif untuk meningkatkan kualitas hidup bagi masyarakat di sekitarnya.

Materi pengajaran yang digunakan dalam program ini berdasarkan kurikulum diknas yang dapat diakses melalui website www.pesantrenglobal.org. ”Dalam situs tersebut terdapat papan tulis maya yang memungkinkan siswa untuk berkomunikasi dengan guru melalui chatting,” sebut Radjimo. (wahyu sibarani/MG-18)

MA Nurul Jadid Paiton, Percontohan Madrasah Bertaraf Internasional di Jawa

http://www.jawapos.com/index.php?act=detail_c&id=295802

Madrasah Bukan Pilihan Kedua
Departemen Agama (Depag) telah menunjuk empat MA di Jawa, Kalimantan, Sulawesi, dan Sumatera sebagai pilot project Madrasah Bertaraf Internasional (MBI). Salah satunya adalah MA Nurul Jadid (MANJ) Paiton, Probolinggo, yang mengadopsi sistem pendidikan di Singapura.
————-

“DON’T disturb me,” Sherly Dwi Agustin berkata sedikit ketus kepada Nur Aini, kawannya. Dengan muka sedikit masam, gadis berjilbab itu langsung mengambil alih mouse yang sempat diutak-atik temannya itu. Nur terdiam sebentar lalu menyeringai, ’”Okay”. Sherly kembali tenang. Dia kembali asyik berkutat dengan microsoft exel-nya.

Saat ditemui Jumat (20/7) lalu di sekolahnya, Sherly dan Nur sebenarnya sedang libur. Tapi dia bersama teman-temannya sedang menyelesaikan beberapa tugas. “This is our study club,” katanya ramah.

Itulah sekelumit obrolan sehari-hari para siswi Madrasah Aliyah Nurul Jadid (MANJ) Paiton, Probolinggo. Ya, dua siswi tersebut memang diwajibkan bertutur dalam bahasa Inggris untuk berkomunikasi sehari-hari. Begitu pula dengan ke-16 kawannya, walau beberapa mengaku masih sering menggunakan bahasa gado-gado alias campuran Indonesia-Inggris.

Mereka adalah siswa kelas MBI (Madrasah Bertaraf Internasional) angkatan pertama 2006/2007 alias angkatan rintisan. Segala tugas dan tuntutannya tak beda jauh dengan kelas Sekolah Bertaraf Internasional (SBI) yang kini marak dimiliki dan dirintis banyak sekolah negeri. Tak hanya penguasaan bahasa yang jadi target, kemahiran mengoperasikan perangkat Information and Technology (ICT) pun juga jadi tuntutan.

MANJ adalah satu di antara empat MA di Indonesia yang ditunjuk Departemen Agama (Depag) sebagai Madrasah Bertaraf Internasional (MBI). Surat ikatan kerja antara Direktur Pendidikan Madrasah Direktorat Jenderal Pendidikan Islam dan MANJ resmi diteken pada tahun ajaran baru 2007/2008. Artinya, MANJ telah memiliki izin resmi operasional MIB. MANJ pun mendapat suntikan dana Rp 750 juta untuk tahun pertama. Pengembangan sumber daya manusia (SDM) dan fasilitas menjadi target utama.

Latar belakang terbentuknya MBI, menurut Kepala MANJ Malthuf Siraj, tak lain lantaran tantangan kualitas output pendidikan yang kian ketat. “Selama ini MA selalu diposisikan di nomor dua setelah sekolah umum, padahal kami juga mampu mencetak lulusan dengan kualitas yang sama,” papar pria yang juga menjabat sebagai dekan fakultas syari’ah Institut Agama Islam Nurul Jadid (IAINJ) itu.

Dalam mewujudkan produk yang bagus itulah, penekanan kemampuan sains dan bahasa diutamakan. Dua bahasa dipilih, Inggris dan Arab. Bahasa Inggris lantaran bahasa internasional, sedangkan bahasa Arab sebagai identitas MA. “Penekanannya pada keilmuan matematika, fisika, kimia, dan biologi,” kata A. Shofi, koordinator MBI.

Menurutnya, Alumni MA tak harus selalu meneruskan konsentrasi jurusan keagamaan pada jenjang pendidikan yang lebih tinggi. Mereka bisa masuk ke perguruan tinggi manapun, termasuk yang berbau teknologi.

Hingga kini, beberapa siswanya MANJ telah diterima lewat jalur prestasi di beberapa perguruan tinggi negeri bergengsi macam Institut Pertanian Bogor (IPB), Universitas Gajah Mada (UGM), dan Universitas Airlangga (Unair).

Nah, dengan MBI, jumlah siswa yang meraih prestasi tersebut menjadi lebih banyak.

Shofi menambahkan, saat ini pihaknya belum mungkin membuat seluruh kelas menjadi MBI. Pada tahun ajaran lalu, program itu baru dirintis dengan 18 siswa yang semuanya perempuan. Kini MANJ membuka dua kelas untuk siswa MBI. Terdiri atas 25 siswa dan 25 siswi dengan konsentrasi IPA (penjurusan langsung dilakukan pada semester pertama). Para siswa tersebut dipilih melalui saringan minat dan tes. Mereka haruslah siswa yang pada MTs/SMP selalu duduk pada lingkaran lima besar di kelasnya.

Dua kelas yang kini siap memulai tahun ajaran baru tersebut diberikan pengenalan mengenai MBI, termasuk kurikulum yang digunakan. Shofi mengatakan, MBI MANJ akan mengacu kepada kurikulum yang dipakai sekolah-sekolah di Singapura, yakni penaikan grade.

Target nilai dan pelajaran yang diserap siswa dibuat lebih tinggi. Misalnya, siswa yang masih duduk di kelas satu diharapkan tak merasa “sungkan” untuk melahap materi kakak kelas. Untuk materi bahasa Arab, para guru optimistis dapat memenuhi target tanpa kesulitan. Namun demikian, menurut Shofi, bercakap-cakap dengan native speaker, sang empunya bahasa, juga penting. Oleh karena itu, MANJ juga telah menyusun jadwal berkala bagi para siswanya untuk bertemu dengan akademisi dari Australia dan Mesir.

Genjotan kedua bahasa tersebut bakal dilakukan dalam tiga bulan pertama di kelas, plus pengasahan di lembaga pengembangan bahasa asing yang terletak di setiap pondok siswa. Siswa MBI akan diletakkan pada asrama yang sama agar dapat lebih sering berlatih. Setelah para siswa dinilai mulai terbiasa, ganti materi MIPA yang ditekankan. Empat dosen asal Universitas Jember (Unej) siap menjadi sumber ilmu. MANJ meminta empat dosen untuk turut pula menangani materi MIPA selain 22 guru yang telah siap.

Jadwal belajar para siswa MBI tak berbeda dengan siswa reguler. Kegiatan mulai dilakukan pada 06.00 dengan pengajian umum. Kemudian pada 07.30-13.00 adalah jam belajar di kelas dengan dua kali istirahat. Dilanjutkan dengan kegiatan ekstrakurikuler sampai pukul 16.30. Hanya pada hari-hari tertentu siswa MBI menerapkan metode full day school, menerima materi pelajaran hingga pukul 16.30.

“Siswa MBI juga memiliki hak untuk lebih sering menggunakan fasilitas ICT di sekolah. Siswa dapat mengakses internet selama enam jam sehari,” katanya. Angka itu jauh lebih lama daripada siswa kelas reguler (IPA, IPS, Bahasa, dan Agama) yang mempergunakan internet tak lebih dari 2 jam sehari.

Penguasaan ICT juga merupakan salah satu fokus ke depan MBI MANJ. Tak hanya siswa, para guru juga diminta untuk mengasah terus kemampuan penguasaan teknologinya. “Peningkatan kualitas guru dalam ICT dan bahasa memang penting. Kalau soal isi internet yang tak terhitung banyaknya,

Kami belum mengenalkan semuanya kepada siswa. Itulah yang jadi pekerjaan rumah (PR) para pengajar,” katanya.

Para siswa MBI MANJ tak dikenai biaya semahal di sekolah-sekolah negeri yang telah SBI. Mereka “hanya” membayar Rp 400 ribu untuk uang pembanguan (satu kali saat masuk), Rp 15 ribu untuk iuran komite (satu kali), SPP Rp 25 ribu, dan uang program Rp 75 ribu (setiap bulan khusus untuk MBI).

Shofi mengatakan bahwa jumlah tersebut amatlah kecil dibanding sekolah lain yang mewajibkan siswa membayar hingga ratusan ribu setiap bulan. “Para siswa kami banyak yang datang dari ekonomi menengah dan menengah ke bawah,” katanya.

Meski begitu, MANJ tak ambil pusing. Para guru mengerjakan apa yang telah ada dan siap digarap. Semuanya untuk menjadikan MA juga nomor satu layaknya sekolah umum. Sehingga seluruh cita-cita siswa dapat terwujud, termasuk impian Rofiqoh alumnus MTs Nurul Jadid yang saat ini duduk di kelas MBI, “Saya ingin menjadi dokter,” tegasnya. (anita rachman)